Teori >< Praktek

“Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi dengerin apa yang dia bicarakan.” Begitulah teorinya. Sementara prakteknya, tidak sesederhana itu. Faktanya, kita akan cenderung lebih dihargai sesuai kualitas diri kita, intelektualitas, latar belakang, potensi, pengaruh dan segala bentuk prestasi yang kelihatan di mata orang-orang.

Mayoritas orang lebih tertarik mendengarkan sosok bangsawan menyampaikan kebenaran dibandingkan seorang mantan pencuri yang juga mencoba bercerita soal kebenaran. Apa yang disampaikan keduanya sama, tetapi sudah pasti yang mau mendengarkan seorang motivator jauh lebih banyak dibandingkan sang mantan pencuri. Kualitas latar belakang seseorang selalu dijadikan kambing hitam untuk mengklasifikasikan golongan penerimaan di lingkungan masyarakat.

Lalu bagaimana ceritanya kalau yang menyampaikan kebenaran di muka bumi ini hanya orang-orang yang sudah dapat gelar ‘baik’? Padahal ukuran kebaikan itu realitive dan hati manusia cenderung bolak-balik. Yang hari ini baik, barangkali besok atau lusa ia sedang asyik bermaksiat. Yang hari ini sibuk bermaksiat siapa tau nanti justru yang paling taat. Hargailah mereka yang sedang dalam proses menjemput kebaikan. Kita ini lemah dalam hal mempertahankan kebaikan diri sendiri, tetapi  kita paling mudah untuk mengomentari kesalahan orang lain. Padahal sungguh orang baik tidak akan pernah bilang ia sudah baik, sama hal nya seperti langit yang tak pernah bilang ia tinggi.

Untuk mengkritisi begitu banyak teori yang tidak sesuai dengan prakteknya, mungkin sebetulnya ada yang perlu kita perbaiki yaitu pola fikir. Pola fikir bahwa sesuatu yang baik bukan hanya karena ia terlihat baik, tetapi yang paling penting ia yang mau berproses jadi baik.

Kebenaran itu bisa datang kapan saja, dimana saja, bahkan lewat siapa saja. Buka pikiran, buka perasaan kita untuk lebih open minded dengan hal-hal baik. Membiasakan untuk berprasangka baik dan terus-menerus jadi orang baik. Apa yang kita tuai, adalah hasil penanaman kita di hari belakang. Tanam kebaikan, tuai kemenangan.

Siapapun berhak menyampaikan kebenaran, dengan latar belakang apapun, dengan profesi apapun, dan dengan jabatan apapun. Jangan hanya karena kita suka dia, apapun yang dia sampaikan kita telen aja. Sementara ketika musuh kita mencoba mengabarkan kebenaran, kita tolak mentah-mentah. Kita cenderung lihat sesuatu hanya dari sisi siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Objeknya adalah sang tokoh pembicara, bukan isi pembicaraannya. Begitulah pergeseran-pergeseran paradigma yang banyak terjadi belakangan ini.

Ketika kita mulai merasa tidak suka dengan seseorang, cobalah untuk ingat kebaikannya. Kalau juga masih sulit untuk ingat kebaikannya, cobalah untuk benci karakternya saja bukan seluruh yang ada pada dirinya.

Mulailah jadi manusia bijak yang lebih dewasa dalam berfikir, mengolah emosi, dan melapangkan hati untuk menerima kebenaran tanpa harus memikirkan siapa yang menyampaikannya.

Yuk saatnya terbuka pada kebenaran yang datang dari siapa saja!

images (3).jpg

 

Antara Kota dan Peradaban

Saya paling suka berimajinasi tentang hari depan. Tentang kemungkinan-kemungkinan yang kerap saya semogakan. Tentang peradaban yang lebih baik, juga tentang pencapaian luar biasa yang jauh dari batas normal. Kan seharusnya begitu, untuk jadi yang terbaik kita memang harus berfikir hebat, bertindak besar, dan ambil bagian keluar dari zona nyaman. Karena menurut saya, orang luar biasa itu tidak biasa.

Sayangnya, bekal saya buat mengubah dunia belum seberapa. Masih butuh serapan ilmu barang beberapa tahun dulu juga butuh meluangkan jiwa untuk siap tidak kenal lelah dalam belajar. Karena sebetulnya, yang paling melelahkan di dunia ini justru memerangi kebodohan.

Kalau suatu hari nanti saya sudah diperkenankan ambil peran, saya sudah harus matang dalam berfikir dan ambil tindakan, punya komitmen, dan mampu mengemban amanah banyak manusia. Nanti kalau jadi orang hebat, harus bisa menyumbangkan pemikiran bahwa untuk pembangunan suatu wilayah dan kota yang dibutuhkan tidak hanya morfologi fisik atau ekonomi semata. Melainkan juga bagaimana menciptakan pembangunan berwawasan lingkungan. Salam hijau untuk semesta yang sedang kalut menghadapi fenomena alam yang makin tak tentu rudu ini.

Idealnya, pembangunan itu mengandung pengertian menciptakan ada dari yang tidak ada, dan menyempurnakan yang ada menjadi sesuatu yang lebih baik lagi. Tuntutan zaman sejatinya sudah mengubah pola fikir orang-orang bahwa semakin maju infrastruktur suatu negara sebanding dengan semakin maju kualitas hidup sumber daya manusianya dan pembangunan ekonominya. Padahal, kesenjangan masih begitu kental terlihat dimana-mana, terlebih di  Indonesia. Pemerataan itu penting, tetapi seringkali terlupakan. Yang kaya akan semakin kaya. Yang miskin akan semakin miskin. Begitukah sistem yang memanusiakan manusia?

Contoh yang dapat kita lihat adalah kisah Slums in between modern buildings

239a898e0a307a70c1424f14843f8cc8.jpg

 

 

Banyak negara berkembang yang masih akrab dengan fenomena kekumuhan di balik bangunan modern. Kesenjangan yang begitu mengkhawatirkan bukan?

 

 

Baiklah, kita coba berjalan-jalan ke sebuah negara dengan tata kota yang menginspirasi, Barcelona!!. Mayoritas orang hanya tau Barcelona itu identik dengan sepak bola, padahal Barcelona juga terkenal karena mempunyai desain kota yang begitu indah loh.

Barcelona, adalah kota di Spanyol berdiri pada 230 SM yang memiliki luas 100,4 km², kota ini berperan sebagai galeri hidup bidang tata ruang, arsitektur dan dekorasi yang bergaya modernis dan juga Art Nouveau (seni baru). Pembangunan fisik dan infrastruktur ini kemudian diikuti oleh pembangunan mental dari individu yang berada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan salah satu ciri utama dari kota inovasi yaitu adanya peningkatan kualitas hidup masyarakat yang berkelanjutan (World Café Supporting Information, 2012). Hingga kini, melalui program 22@Barcelona, Kota Barcelona menjadi dikenal sebagai kota inovasi.

eixample-barcelona.jpg

Salah satu distrik di kota Barcelona yang terkenal dengan tata kotanya yang indah adalah Eixample.  Eixample mulai dibangun pada abad ke-20. Desain Tata Kota Eixample ditandai dengan jalan-jalan lurus yang panjang, pola-pola garis yang ketat, jalan-jalan lebar dan blok persegi oktagonal dengan sudut yang dinamakan Chamfered. Desain ini merupakan rancangan Idedons Cerda, dengan ciri khas ruang terbuka hijau yang luas dan jalanan yang lebar. Bangunan gedung pencakar langit sangat jarang di kota ini, sehingga memungkinkan cahaya matahari dapat masuk di setiap sudut kota dan menghadirkan pemandangan kota yang indah.

2286879911_483a90d5a5_b.jpg5271635206_fe7fcd05db_b.jpg

Beberapa bagian dari Eixample banyak dipengaruhi oleh arsitek Modernista, seperti karya arsitektur kenamaan Antonio Gaudi. Salah satu karyanya di Eixample adalah Casa Mila dan Casa Batlo. Arsitektur terkenal lainnya di kota ini adalah karya Josep Puig i Cadafalch, Josep Domenech i Estapa, Josep Vilaseca i Casanovas dan Sagnier Enric Villavecchia, yang telah merancang lebih dari 500 bangunan.

Belajar dari keberhasilan Kota Barcelona dalam mewujudkan kota inovasi, maka sudah saatnya pemerintah kota di Indonesia untuk mengembangkan paradigma pembangunan yang baru. Bahwa pengukuran keberhasilan pembangunan bukan saja melalui pertumbuhan ekonominya, namun juga dapat melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki. Sehingga dapat saja menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penunjang perekenomian wilayah dan bukan sebaliknya.

“Saya percaya bahwa perubahan itu ada kalau semua orang mau mengubah dirinya terlebih dulu. Semua orang mau belajar, mau berinovasi, dan mau bermimpi lalu berani memulai langkah dan mengambil tindakan. Kita  seringkali dikerdilkan oleh pemikiran kita sendiri. Terlalu banyak bilang takut, tapi nanti begini tapi nanti begitu. Sampai pada akhirnya ketakutan-ketakutan itulah yang menelan mimpi-mimpi yang kita bangun, lalu ludes tanpa sisa. Miris”-

tumblr_mr807sUfcl1s849x3o1_1280

Menolak Ngaret, Budayakan On Time!

Yang fana adalah waktu. Tetapi, tidak sedikit yang menyepelekan waktu. Terlalu banyak bilang nanti, kapan-kapan, atau barangkali masih ada hari esok. Kita betul-betul sedang krisis kepedulian, jangankan soal kemanusiaan hal menyangkut waktu saja sebagian besar mengabaikannya. Kita lebih sering koar-koar menuntut ini itu. Padahal perubahan dimulai dari sikap kita sendiri, dari tindakan yang kita ambil, dari energy yang kita habiskan bukan dari kata-kata yang hanya sekedar kata. Tidak berbobot dan punya nyawa. Istilahnya itu bukan cuma omdo alias omong doang, tapi punya bukti komitmen yang bisa diandalkan dan dipercaya. Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang dapat dipegang kata-katanya.

Sama-sama dikasi kesempatan waktu 24 jam per hari. Lantas kenapa banyak keberagaman yang lahir mulai dari tipe mereka yang produktif memanfaatkan waktunya, mereka yang mayoritas memanjakan rasa magernya, hingga mereka yang selalu menyalahkan waktu dengan semena-mena. Pada dasarnya tingkat kebutuhan dan kesibukan setiap orang memang nggak sama. 24 jam saya akan berbeda dengan 24 jam milik sahabat saya. Tetapi, ini bukan soal sibukmu di sana mungkin beda dengan sibukku di sini. Melainkan lebih kepada menempatkan prioritas dan menghargai objek. Ketika kita membuat kesepakatan seharusnya kita memainkan lakon sesuai porsi. Jangan sampai kita yang buat, kita juga yang melanggarnya. Itu artinya kita tidak bisa berkomitmen dengan baik kan?

Ketika kita punya janji di 15.00 WIB  ketahuilah bahwa dibalik satu orang yang datang on time, yang ngaret dan telat banget perbandingannya jauh lebih besar. Katanya sih budaya orang Indonesia masa kini ya gitu. Kalau sudah begitu, alasannya juga ya gitu-gitu aja. Mutar-mutar disitu, mulai dari yang rasional hingga alasan super nggak masuk akal. Untungnya karena sama-sama terbiasa menyikapi dan disikapi seperti ini kita jadi gampang memaklumi, terlalu memanjakan diri sendiri dan orang lain. Yah, orang Indonesia begitu toleran menyikapi keterlambatan. Saking tolerannya, jadi menganggap bahwa terlambat itu sudah biasa dan wajar-wajar saja.

Banyak presepsi yang berkembang di balik budaya ngaret, salah satunya dengan anggapan bahwa “Ngapain datang awal kalau ujung-ujungnya acaranya juga molor”. Ada juga yang ketika diajak janjian setelah Ashar (15.00 WIB), kemudian datangnya jam setengah lima. Dan saat yang nunggu mau marah “Saya sudah berjamur nungguin kamu disini”, dia juga sudah punya tameng duluan “Ini juga setelah ashar kan? Belum maghrib juga. Masih sore, belum malam.” Heh, lain kali kalau mau janjian sesuaikan dengan waktu bagian temanmu itu ya. Kalau sudah begini waktu Indonesia bagian barat tidak lagi bisa dijadikan patokan. Orang Indonesia paling suka bikin orang lain menunggu, tapi giliran disuruh nunggu terbitlah quote-quote galau yang minta dikasi kepastian.

Sesekali marilah berkaca pada Negeri Sakura, sebuah Negeri yang begitu trend dengan budaya tepat waktunya. Alhasil mereka jauh lebih produktif dan maju dibandingkan bangsa kita. Anak muda kita jelas kalah saing kalau disandingkan dengan anak mudanya Jepang. Waktu senggangnya orang Indonesia itu panjang dan dipanjang-panjangin dengan sekedar nongkrong tanpa kualitas di warkop atau café elit yang lagi buming di pasaran. Hanya sekedar duduk bersenda gurau tanpa topik obrolan yang jelas dan gak ada faedahnya. Kita terlalu sibuk dan disibukkan oleh kepentingan rasa nyaman yang melenakan. Lupa ada banyak hal berharga yang musti kita pikirin dan kerjain.

Pada akhirnya, yang kita butuhkan hanyalah belajar menghargai hal-hal kecil semisal waktu. Ketahuilah, bahwa hal-hal besar itu lahir dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Lakukan sesuatu sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain. Kalau kamu tidak suka menunggu, ya jangan sering-sering buat orang lain menunggumu.

When the time is gone, you can never get it back.

#MenolakNgaret #BudayakanTepatWaktu

superthumb (24).jpg

Kepulangan Terbaiknya

Mungkin sudah banyak yang baca petikan sebuah kalimat indah yang berbunyi seperti ini “Jika tidak dibersamakan dengan ia yang namanya sering engkau sebut dalam doa. Barangkali engkau akan dibersamakan dengan ia yang lebih sering menyebut namamu dalam doanya.” Menurutku itu tepat, seperti memberi kita kelegaan hati bahwa yang terbaik pasti akan pulang. Tidak tau siapa, tidak tau kapan, dan tidak tau sedang dimana rimbanya sekarang. Berprasangkalah dengan sebaik-baiknya prasangka. Kalau kata sahabatku, selipkan namanya dalam doa. Seberapapun berjuang, seberapapun cinta, kalau Tuhan bilang tidak manusia bisa apa. The more you pray, the more Allah show you the way. Tugas kita hanya satu, menunggu seraya memperbaiki diri lagi dan lagi.

Duniaku berubah dengan sangat cepat. Pelik-pelik yang menghiasi romansa perasaanku sudah membuatku jauh lebih tegar. Tidak gampang rapuh seperti kebanyakan. Tidak lagi kuadukan kisahku pada siapapun jua, kecuali padaNya dan pada orang-orang yang kuanggap paling bijaksana. Konflik yang bertubi-tubi menyerang pengembaraan hati tempo dulu sudah kususun rapi jadi buku pelajaran yang hanya perlu dipetik hikmahnya. Tidak untuk diulang kembali, sama-sekali haram kalau harus terjadi dua kali. Menyedihkan betul kalau aku tidak belajar dari pengalaman dan tidak lebih baik dari hari kemarin. Hari-hari yang telah terlewati seharusnya memang membentuk jiwaku lebih baik, semakin menghebat seiring hebatnya rintangan, berkurang keluhannnya, bertambah rasa syukurnya. Dan untuknya, kuharap dia tetap baik-baik saja meskipun aku selalu tak baik-baik saja ditampar kenyataan ditinggalkan olehnya dengan semena-mena.

“Aku paling suka terinspirasi karena kata-kata seseorang. Rasanya begitu mudah merasuki jiwaku, menegurku dengan sangat gamblang, sampai-sampai menyentuh perasaanku secara sempurna. Tetapi aku juga paling mudah suka karena sikap dan perlakuan baik seseorang. Susah untuk melupakan kebaikan orang lain. Terutama kamu Ta.” Itu kata-katanya yang masih bisa kuingat dengan baik. Tepatnya sebelum ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Menjauhiku dan memutuskan persahabatan ini. Sebuah persahabatan yang kubangun dengan penasaran, ketulusan hati, kurawat dengan sempurna, juga dipupuk oleh potongan-potongan cinta yang barangkali hanya aku yang merasakannya.

“Kenapa tidak berkomitmen untuk pulang lagi ke Indonesia?  Barangkali menemuiku kembali. Menemaniku jalan-jalan, belajar bahasa, atau sekedar mengkhayalkan hari esok. Minimal kamu punya janji kembali lagi, meskipun rasanya pamit untuk pergi sudah cukup menyakitkan.” Pintaku di balik kepergiannya. Matanya sembab, mataku mungkin sama juga. Awan pun seakan ingin ikut menangis, menitikkan hujan yang sama basahnya dengan perasaanku kini.

“Aku tidak berani berkomitmen apa-apa Ta. Mungkin aku pasti pulang, tapi bukan pulang untukmu. Mungkin sekedar menengok Ayah Ibu dan sanak saudara lalu mengunjungi tim futsal terbaikku.”Katanya dengan tidak menatapku. Ia bukan saja tengah melukai perasaanku tetapi juga menghancurkannya dengan semena-mena. Aku sahabat yang menemaninya melewati dunia yang kadang manis kadang menyakitkan ini delapan tahun lamanya. Aku sahabat yang menjadi saksi dibalik puluhan patah hatinya, bahkan akulah yang jadi sandaran ketika ia sedang membutuhkan pundak. Memberikan tempat paling nyaman untuk cerita, berbagi apa saja, meski kadang aku iri kenapa bukan aku yang berhak jadi orang yang ia cintai. Lantas ia tidak pernah menganggapku sebagai rentetan yang akan dicari ketika ia kembali. Lalu selama ini ia anggap aku apa? Figuran tak berguna?

“Kata Ayahku, orang-orang yang tidak berani berkomitmen adalah orang-orang yang sedang siap-siap meninggalkanmu sewaktu-waktu. Dan mungkin hari ini adalah waktu itu. Terimakasih untuk segalanya, aku pulang dulu.” Setelah itu aku pergi dari rumahnya. Tidak jadi mengantarkannya ke bandara. Tidak juga menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaannya. Kurasa, hari itu betul-betul hari buruk.

*****

Dua tahun berlalu. Aku tidak lagi mengingat tentangnya. Sudah berusaha berdamai dengan perasaanku sendiri dan mencoba menata ulang hidup sesuai pada porosnya. Mungkin takdirku begini, tidak dipersatukan dengan ia yang sering kusebut namanya dalam doa. Namun nyatanya, setelah dijalani, rasanya aku gagal sendiri. Akh. Seharusnya ketika kita disakiti kita lebih gampang melupakan? Kenapa justru ini tidak mudah? Kenapa harus selalu mengingatnya yang mungkin hari ini sudah tidak lagi kenal padaku? Kenapa Tuhan?

“Coba baca referensi tips move on deh kak. Waktu itu aku berhasil nerapinnya. Siapa tau cocok juga buatmu.” Ide Kara adikku sore itu membuatku lebih semangat untuk lebih banyak membaca buku-buku yang kudapat di berbagai toko buku. Mendadak, aku berubah jadi penggila buku, majalah, koran, dan tulisan-tulisan berbau cara melupakan seseorang. Dan hasilnya tetap nihil. Tidak berprogress sama sekali.

“Idemu tidak manjur buatku Ra. Ada ide lain gak?” Tanyaku padanya. Ia meletakkan handphonenya, sepertinya tertarik sekaligus iba melihat kakaknya yang begitu menyedihkan.

“Atau kubuatkan resep makanan dan minuman sehat yang di dalamnya mengandung zat pelupa? Kadarnya kusesuaikan karena takutnya kamu malah berubah jadi pelupa yang susah melupakan.” Katanya dengan serius. Tidak bercanda sedikitpun. Dengan gampangnya aku percaya saja, karena seisi rumah dan sekolahnya pun tau bahwa Kara jago biologi dan tau betul tentang ilmu-ilmu medis. Mungkin juga karena ia berambisi jadi dokter alhasil kerjaannya adalah membaca referensi terkait ilmu kesehatan dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Adikku betul-betul membanggakan.

“Apapun itu aku coba!” Kataku bersemangat.

Sejak hari itu aku banyak mendengarkan tips-tips ala Kara. Membaca banyak buku, makan dan minum jus buah-buahan beserta judul-judul makanan yang membuat berat badanku naik drastis, mendengarkan lagu-lagu energic , lebih merawat dan mempercantik diri, dan terakhir aku dianjurkan untuk banyak menonton drama korea.

“Jadi kamu menyarankanku untuk nonton drama korea biar kamu ada temen baper bersama gitu? Curang ih!” Kataku saat selesai menghabiskan 10 episode film korea di laptopnya.

“Kan kamu pernah bilang Kak Far selalu menemanimu belajar bahasa asing. Akulah penggantinya untuk mengenalkanmu pada bahasa korea. Sekalian baper bersama sih.” Tawanya meledekku.

“Kamsahamnida.!” Kupeluk ia erat sekali. Memastikan bahwa adikku tidak sedang mengerjaiku karena nyatanya sejauh yang ia ajarkan justru berefek aku semakin pesat mengingat Farel. Menyebalkan sekali.

*****

Hari ini mentari sedang bersinar cerah-cerahnya. Seolah ingin bertanding denganku, tentang siapa yang paling layak bahagia. Akulah seharusnnya. Aku tidak boleh terlihat merengut, berwajah masam, apalagi terbaca sedang bersedih. Jangan. Aku harus tetap tersenyum, pura-pura bahagia kadang diperlukan. Aku hanya tidak suka mentransfer kesedihanku ke banyak manusia di bumi ini. Sudah cukup rumit kutanggung sendiri. Aku hanya mau mereka dengar cerita bahagiaku saja. Jadi kuputuskan untuk bilang pada dunia bahwa aku sudah berhasil melupakannya, melupakan seseorang yang dulu pernah kucintai secara sempurna bahkan sampai detik ini juga. Apalagi setelah dengar kabar hari ini Far pulang, rasanya kembali teringat bahwa setiap kepulangannya jelas-jelas bukan buatku. Tapi untuk keluarganya dan tim futsal kesayangannya. Kurasa sudah cukup jelas, hanya saja aku terlalu butuh banyak penjelasan lainnya. Aku terlalu banyak menuntut, terlalu kekanakan padahal aku sudah delapan belas tahun. Sudah punya KTP, SIM, dan surat-surat negara yang melabeliku sebagai orang dewasa. Sebenarnya aku ini orang dewasa yang masih kekanakan kalau soal urusan cinta. Aku selalu kalah melawan perasaanku sendiri. Oh Mama..

“Ta.” Seseorang memanggilku dari arah belakang. Dan aku pura-pura tidak dengar, aku ingin terlihat begitu menikmati es krim ini. Agar orang-orang berkesimpulan aku betul-betul sudah bahagia dan terlepas dari bayang-bayang Far.

“Aku tau telingamu tidak bermasalah semenjak kutinggalkan waktu itu.” Ia duduk di sampingku, menatapku tertawa seakan tidak punya kesalahan apa-apa. Mati-matian kutahan perasaan yang tidak karuan ini. Aku tidak boleh terlihat masih mengenangnya.

“Kamu siapa?” Pertanyaan paling bodoh keluar tanpa kontrol yang baik.

“Aku juga tau otakmu masih waras, jelas tidak akan lupa padaku.” Lanjutnya masih dengan tertawa.

“Kenapa kembali menemuiku? Aku sudah lupa padamu. Sudah kucoret dari garis besar orang penting dalam hidupku.” Kataku acuh, tidak mau menatapnya.

“Waktu itu aku ingin mencoba hidup tanpa kehadiranmu Ta, tanpa dukungan, tanpa bantuan, bahkan tanpa sebuah cinta dari seorang anak manusia yang sebetulnya sudah lama kucintai. Kan sudah terlalu banyak aku bergantung denganmu. Aku ingin memastikan perasaanku ini. Jika aku sanggup kehilanganmu, artinya aku tidak betul-betul mencintaimu dan kita bukan sepasang yang dijanjikan Tuhan. Dan jawabannya aku kalah melawan perasaanku sendiri. Jangankan satu tahun, sebulan, seminggu, satu hari tanpa kabarmu rasanya hidupku hampa. Kehilangan sinarnya.” Aku diam. Mencerna kata-katanya lalu menunduk. Meneteskan air mata. Ah ya, aku kembali gagal terlihat baik-baik saja.

Setelah itu, Far banyak menjelaskan padaku jawaban dari pertanyaanku. Kebimbanganku sirna sudah. Rupannya ia telah tega bersekongkol dengan adikku. Ia selalu memantau kabarku lewat adikku lalu mereka bertukar cerita. Tentang tips move on ala Kara, itu semua hanya permainan yang justru membuatku semakin banyak mengingat Far bukan sebaliknya.

“Aku juga sama kalutnya denganmu. Aku hanya pura-pura baik-baik saja.” Katanya membuatku tersipu. Malu, sungguh malu.

“Dua tahun tidak sebentar loh.” Kataku.

Dia bukan saja indah, melainkan memang yang terindah. Bukan karena rupa, apalagi harta. Definisi keindahan tidak sedangkal itu. Dia buat saya jatuh cinta. Tanpa alasan. Lagi dan lagi.

tNwqDGbotz.png

What Women Want

Saya suka laki-laki yang baik agamanya. Yang mencintai Tuhan sehingga dengan begitu ia mampu mencintai umatNya dengan sebaik-baiknya. Yang taat, berakhlak baik, dan punya prinsip dalam hidup.

Saya suka laki-laki yang tertarik dengan dunia sastra. Rasanya potongan sajak, puisi, cerpen, dan kawan-kawannya adalah ramuan romantis yang menenangkan. Manis dan ampuh untuk bikin senyum-senyum sendiri.

Saya suka laki-laki yang jago main musik. Sepertinya alunan melodi, harmonisasi, petikan gitar, bisa buat siapapun gampang terpikat. Kece.

Saya suka laki-laki yang cerdas, berpendidikan, asik diajak ngobrolin apa aja, dan dapat menginspirasi. Menuntun saya menjadi lebih baik, bukan malah menuntut. Meredakan tangis dan amarah bukan malah meledakkan. Melengkapi ketidaksempurnaan, berjalan seiring dan digiring sampai nanti kata selesai tiba.

Saya juga suka laki-laki yang humoris. Lucu, menggemaskan, dan mampu buat saya tertawa untuk sejenak melupakan rentetan tugas yang merepotkan. Yang dapat menempatkan diri kapan harus jadi pelawak gratis, kapan jadi seorang guru yang mengayomi, dan kapan harus terlihat romantis.

Tetapi.

Pada akhirnya, yang paling saya sukai adalah mereka yang dapat menghargai saya sebagai seorang wanita. Karena saya adalah seorang wanita yang kurangnya tidak pernah selesai dijabarkan meski dengan banyak koma. Wanita yang masih perlu banyak belajar lewat buku, pengalaman, orang lain, dan hal-hal kecil yang seringkali diabaikan. Wanita yang sedang merangkak memperbaiki diri dan jiwa menjadi lebih dewasa dan peka.

Pada akhirnya yang kita butuhkan bukan mereka yang dapat kita genggam erat fisiknya, melainkan mereka yang mampu kita sentuh hatinya. Tulus, ikhlas, dan betul-betul buat kita jatuh hati. Bukan jatuh hati pada parasnya, tetapi pada bagaimana ia berfikir, bertindak, dan meramu hari depan. Bukan jatuh hati pada kekayaan hartanya, tetapi pada bagaimana ia berkomitmen, bertanggung jawab, dan memandang hidup dengan tidak sedang bercanda.

Dan pada suatu hari nanti, akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat saya tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempat saya tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk saya ajak bicara. Cukup kuat kakinya untuk saya ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu menerima saya yang juga serba cukup. The longer you wait for something, the more you appreciate it. Everything you need will come to you at the perfect time. Just waiting and preparing something better.

img20170124161907_%e5%89%af%e6%9c%ac

 

 

 

 

 

 

Ada Yang Hilang..

Kepergiannya yang tiba-tiba menyisakan  tanda tanya besar. Melayang-layang dalam ingatan hingga menggelut akar belukar. Bersimbuh luka. Berbekas, tapi tak berdarah. Rumit, sulit, sakit, melihatnya pergi tanpa pamit. Jangankan sepenggal kata, sepucuk surat pun enggan untuk ia tinggalkan. Janjinya hanya omong kosong paling murahan. Ia memang betul-betul mahluk paling tega satu semesta. Membiarkanku menerka, melahirkan ketidakjelasan dalam setiap penjelasan, sunyi, sepi, dan aku benci merangkak dalam gelap. Mencari cahaya, yang entah sedang berada di rimba manalagi.

Er, tampaknya memang ada yang salah. Kita sedang tidak baik-baik saja. Ini  adalah mogok berbicara kesekianmu dan aku sebal melihatmu berlagak seperti anak kecil. Ada yang perlu diperbaiki, tidak tentangmu, tidak juga tentangku. Melainkan, tentang kita. Kita sudah melewati berkali-kali musim hujan dan kemarau. Genap empat tahun kita akan jadi sepasang paling romantis dan siap untuk kembali melewati hujan di awal bulan Desember. Masih ingatkan tentang lagu legendaris kita? Masih ingatkan tentang ritual menukar puisi tiap kali akhir tahun tiba?

Er yang dulu telah hilang, tidak lagi jadi sosok paling semangat tiap kali diajak bercerita perihal manisnya hari itu, tidak akan lagi mengajakku jalan-jalan mengitari kota sambil sesekali bertingkah aneh-aneh. Kata Er, ia rela terlihat bodoh dan memalukan asal bersamaku. Dan kini, yang tersisa hanyalah seorang Er yang hening.  Aku benci dibiarkan menebak-nebak, tidak suka melihat perubahan tanpa alasan konkret, dan sungguh aku tidak lagi mengenali Er. Ia dingin, tidak mau bercerita, dan menyebalkan.

“Apa kabar?” Aku menyaparnya. Pertanyaan paling melankolis yang membuatku nyaris menitikkan air mata. Hari ini, aku kembali menunjukkan kerapuhanku di hadapannya. Aku kalah melawan perasaanku sendiri. Ia hanya diam, tidak mau menatapku. Tidak lagi seperti Er yang dulu  selalu  menghapus air mataku sambil berjanji tidak akan ada lagi butir yang jatuh hanya karena ulahnya. Nyatanya ia ingkar janji, setiap hariku adalah hari untuk menangisinya. Menangisi kepergiannya yang beku.

“Aku pulang dulu.” Kataku sambil memberikan bingkisan bunga hasil rangkaianku sore itu. Meninggalkannya lagi untuk suatu hari kembali lagi. Tenang Er, aku akan tetap datang meskipun kau mengabaikanku.

“Ra, berhenti untuk menyalahkan takdir. Ikhlaskanlah. Tugasmu, memang butuh sabar, butuh meruntuhkan ego, dan segala bentuk penerimaan  secara utuh. Ia tidak meninggalkanmu,, ia hanya menunggumu sampai saat itu tiba.” Seseorang mendekapku hangat. Ia Ibu Er, wanita yang paling bersedih atas kepergian Er tapi tetap tabah lewat ketulusannya yang sederhana.

Hari ini, aku kembali kepergok meratapi kesedihan di pusara Er.

a (2).jpg

2016 berakhir..

2016 berakhir. Menyisakan bekas kenangan begitu menggelitik, mengharukan, membahagiakan dan beragam versi ungkapan rasa yang masih begitu hangat dalam  ingatan. Menghadirkan tanda tanya baru,  hingga membuat banyak tokoh  sibuk menerka-nerka tentang apa yang akan diubah dan perlu disingkirkan jauh-jauh. Manis, itu satu judul yang tepat untuk menggambarkan betapa rekayasa Tuhan terlalu ajaib untuk diterjemahkan dalam sebuah rasa syukur. Sulit ditebak, tapi juga mudah untuk dicerna baik-baik. Orang-orang yang datang, kekacauan, tempat baru yang kita kunjungi, bahkan hal-hal paling rumit seperti perihal jatuh cinta dan patah hati telah Tuhan gariskan secara sempurna,kawan. Segalanya ada tujuannya, ada maksud baik yang terjadi setelahnya., Jatuh-bangkit, pergi untuk mengikhlaskan dan kembali menerima hidup dengan jiwa yang lebih baik adalah pembelajaran terbaik sepanjang hayat.

2016, tepat ketika pertama kalinya menyelesaikan bangku SMA, meninggalkan  masa-masa paling melankolis sekaligus penuh romansa ala abege labil. Masih terekam jelas betapa dulu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk galau, meratapi patah hati, dan hal-hal konyol lainnya yang seharusnya waktu itu bisa digunakan untuk lebih produktif. Memperbanyak baca buku, menulis, menggambar, dan jalan-jalan misalnya. Sayangnya, dulu belum mampu memikirkan hal-hal sederhana dengan kacamata kelas dewasa. Masih lugu, kekanakan, dan gampang diperdaya dengan cinta monyet yang melenakan. Kalau kata filosofi kopi tubruk “ Kenalilah lebih dalam. Dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona.” Pesona cinta monyet maksudnya…

2016 tahun dimana harus menyelesaikan tugas organisasi. Ada 5 organisasi aktif yang saya geluti yaitu OSIS, ROHIS, PIK Remaja Andra, Mading, dan Lingkar Siswa Khatulistiwa. Peran saya selalu sama, jadi sekretaris dan sekretaris, sebuah peran yang melekat sejak zaman sekolah dasar hingga duduk di bangku sekolah menengah atas. Kalau ditanya bagaimana rasanya, ya sibuk adalah jawaban paling tepat. Kadang-kadang bisa melebihi tugas sang ketua, bahkan kadang-kadang perlu merangkap diri untuk jadi seorang ketua. Harus lembur untuk nulis laporan seabrek, proposal, undangan, susunan kegiatan, dan bentuk surat-menyurat kejar deadline. Setidaknya kesibukan dan pengalaman management kegiatan   meninggalkan bekas kebaikan yang dibutuhkan di kemudian hari, untuk hari ini misalnya. Lewat organisasi, punya pengalaman ini itu, bertemu dengan banyak orang  dengan wajah baru dan karakter yang beragam. Mulai dari yang enak diajak ngobrol, gampang open minded, sampai yang bikin pusing dan menyebalkan juga ada. Pada akhirnya yang perlu diubah adalah  mindset bahwa wanita tidak hanya butuh modal cantik, tapi juga harus cerdas, gesit, cekatan, independent, dan bisa diandalkan.

2016,Graduated from high school, started new college life. Met new friends and faced many new experience. Ubah status dari pelajar menjadi mahasiswa. Sebuah kebetulan baru yang masih mengundang rasa penasaran empat sampai lima tahun ke depan. Untuk bisa berdiri di kampus ini, ada banyak perjuangan doa dan usaha di belakang sana. Alhamdulillah Allah permudah lewat jalur undangan SNMPTN. Berbicara soal bagaimana perasaan ketika lulus dan memulai hidup baru menjadi seorang  (maha)siswa, rasanya waktu begitu cepat ya membawaku terdampar ke titik ini. Dulu selalu merasa kakak-kakak gemesh yang tayang di sinetron televisi terlihat begitu bahagia dengan kehidupan kampus, kebebasan berpenampilan, berfikir, menggambarkan bahwa situasi kampus itu jauh lebih manis dibandingkan jadi anak sekolahan. Eh setelah dijalani sendiri , rasanya kuliah jauh lebih berat dari masa SMA. Kita dituntut untuk lebih dewasa, secara sikap, pemikiran, bahkan seharusnya lebih dewasa dibandingkan angka yang tertera di umur kita. Setelah kuliah, ada begitu banyak langkah baru yang dimulai. Tentang merantau, management waktu, pertemanan baru, hingga materi perkuliahan  dengan level naik tingkat. Lebih detail dan menyeluruh. Semuanya seperti tantangan baru dengan kelas yang berbeda. Dan hmm tentang cinta, rasanya perlu diskip dulu yaa.

2016, sebuah tahun dimana saya mulai menyadari banyak hal yang dulu lupa atau bahkan enggan untuk disadari. Mencoba keluar dari zona nyaman, terjun ke dunia sosial, melatih public speaking, dan menjadi seseorang yang lebih peka terhadap semesta. Menjadi bagian dari sebuah prodi teknik perencanaan wilayah dan kota, seperti membuka mata dan hati saya bahwa di titik ini ada banyak hal yang perlu saya targetkan dan perjuangkan lebih keras. Dunia teknik yang identik dengan sains membawa warna baru untuk prodi pwk sendiri, karena di prodi ini kami lebih sering disebut sebagai teknik sosial. Modal utama adalah harus bisa presentasi di depan berbagai macam kalangan, punya pengetahuan sebanyak-banyaknya, dan suka travelling. Sepertinya, saya akan  terbang menjadi seseorang dengan kepribadian baru “si kalem yang banyak omong”; “anak rumahan yang doyan travelling”; “pemalas yang suka baca buku”. Terdengar receh, tapi nyatanya ya begitu. Saya yang lebih memilih menulis berlembar-lembar dibandingkan presentasi 5 menit harus berubah menjadi spesies asing yang terkesan awkward. Sampai akhirnya, entah bagaimana sampan membawa saya berlabuh untuk mencoba bergabung di sebuah organisasi lingkar pers mahasiswa. Ini lebih lucu lagi. Seseorang yang seringkali bujur arus, mendadak harus berubah menjadi kritisi yang berjuang menegakkan kebenaran. Kembali keluar dari zona nyaman. Tapi, saya berjanji akan mencoba menggeluti ini dengan baik-baik, mencerna perjalanan setelahnya, dan bertahan sampai batas waktu yang ditentukan. Semoga berhasil.

2016 mengisahkan begitu banyak kisah, menghantarkan jejak untuk kembali menjelajahi pesona 2017 yang siap dilahap kembali oleh waktu. Siap tidak siap, kita tetap akan terus berjalan, sesekali berlari, lalu terjatuh untuk kemudian bangkit lagi. Meneruskan perjalanan sampai kata selesai tiba. Perubahan hanya ada di tangan mereka yang mau belajar. Saatnya menebar kebahagiaan di muka bumi, percaya bahwa kita akan semakin menghebat seiring hebatnya rintangan, menjadi jiwa yang lebih baik lagi, dan tidak pernah berhenti berlari untuk membandingkan.

Orang-orang kita temui.

Kejadian yang telah kita lewati.

Ada tujuannya. Ada maksudnya.

Kalau kita tidak mampu menerjemahkan tiap detailnya,

Setidaknya kita mensyukuri tiap detik ketetapanNya.

Selalu bersyukur. Itu lebih dari cukup.

 

Start to preparing new something better!

Selamat datang 2017…

IMG-20160310-WA0043_副本_副本.jpg

“Akan kuadukan kalian pada Tuhanku”- Jerit gadis kecil Aleppo.

 

Aleppo, sebuah kota di negara Suriah yang kini sedang dibantai oleh rezim Al-Assad. Dunia bungkam ketika muslim dibantai. Nurani dunia mati bersamanya, sebab dunia diam melihat pembantaian. Di sana banyak yang terbujur kaku dibunuh nelangsa. Kita terlalu sibuk melihat dunia dari kacamata romantis, terlalu cerah, hingga lupa ada yang lebih perih, didustakan, meringis karena siksa sebuah kejahatan besar, kekejaman manusia terhadap manusia lainnya. Kita terlalu takut kehilangan harta, takhta, popularitas, dan hal-hal menyangkut duniawi. Wahai hati, jika untaian doa juga sudah tak sanggup lagi kita panjatkan bagi mereka yang ada di sana, entah tengah berada di mana letaknya iman, yang katanya ada di dalam jiwa.
_91095694_59ca448f-dcda-464d-982a-84eab174d219.jpg

Gadis kecil Aleppo barangkali tak mengerti mengapa sepanjang jalan yang ia lalui bergelimpangan mayat. Ia tak tau mengapa Ayahnya dibunuh, Ibunya diperkosa kemudian dibunuh, rumahnya dihancurkan, mengapa taman bermain berubah menjadi tempat mecekam. Tak ada lagi sekolah, tak ada lagi teman bermain, tak ada lagi warna-warni euforia masa kanak-kanak. Ia tak tau kapan semuanya akan berakhir. Ia tak tau harus dengan siapa lagi ia mengadu, harus dengan bagaimana lagi ia mencari tempat perlindungan, “Akan kuadukan kalian pada Tuhanku.” Jerit gadis kecil Aleppo.

Screenshot_2016-12-18-11-44-47_副本.png

Ketika Amerika sedang hits icebucketchallenge, di Eropa marak mannequinchallenge, lalu di korea sedang buming samyangchallenge, maka mari sekarang kita buat challenge baru , humanity challenge. Ini lebih dari sekedar tugas kemanusiaan. Ini kewajiban kita .Tugas kita mendoakan, memberikan donasi, menyebarkan berita agar dunia tau fakta yang sesungguhnya. Mungkin hari ini kita masih bisa membayangkan besok akan kemana, mau ngapain, bertemu siapa, dsb. Namun taukah kita, bahwa di sana mereka justru terus memikirkan “Besok akan bersembunyi di mana lagi? Besok masihkah kita hidup?”. Dan hujan bom yang tiada henti telah tega menghilangkan nyawa, memukul mundur penduduknya, terhimpit berlari di tengah luka yang masih menganga. Peluru terakhir yang dapat merubah keadaan adalah doa.

“I see humans but not humanity” Aleppo sudah cukup menjadi bukti kekejaman Syiah.

 

Screenshot_2016-12-18-11-44-19_副本.png

Mengejar Mimpi

Keterbatasan adalah ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan. Senja boleh berubah, boleh tak tertera lagi senyummu di sana, juga boleh ingkar janji. Namun, jejakku takkan salah arah, tidak akan putus asa walau sedang putus cinta, juga tidak akan ditelan pesimisme model ketakutan fana. Ambisiku bukan ambisi versi perfeksionis, tidak menuntut takdir harus mengikuti mauku melulu, dan yang pasti  tidak akan pasrah ikut arah kemana sampan kan membawaku berlabuh. Kupastikan, akulah pengendali sampan itu.

Seindah fatamorgana, semenakjubkan dunia dongeng yang isinya tokoh-tokoh paling bahagia seantero raya. Kurasa dunia sebetulnya gampang untuk ditaklukan. Asal punya modal keberanian dan kerja keras. Selama kita percaya pada mimpi, kita akan lebih mudah mewujudkannya. Tidak peduli orang lain bilang bahwa mimpiku terlalu ketinggian, katanya tidak mungkin akan kesampaian. Ah, yang penting tekadku tetap utuh, tidak dikecilkan presepsi orang yang tak tau apa-apa.

 

Dan di  jejak ini Tuhan, aku berjanji pada diriku sendiri.

*****

“Pergilah ke suatu tempat di mana tak ada jalan. Lalu tinggalkanlah jejak kebaikan di sana. Merantaulah, agar kamu tau betapa dunia ini tidak sekedar tentang kampung ini. Masih banyak gedung cakrawala yang belum pernah kamu lihat, masih begitu luas samudera yang belum sempat kamu sebrangi, masih banyak hal baru yang perlu kamu singgahi dan kadang tidak dapat kamu temukan hanya dengan sekedar baca  buku.” Kata Ayah yang sedari tadi memperhatikan tiap inci ekspresiku saat membaca buku temuan terbaru di perpustakaan sekolah. Fokusku tidak lagi pada tulisan menakjubkan di buku yang  berjudul Peradaban Era Modern, melainkan lebih tertarik untuk memikirkan kata-kata Ayah barusan.

Aku begitu terinspirasi dari motivasi ala Ayah yang selalu menyihirku untuk bilang “Benar juga ya.”. Ayah selalu bilang, orang-orang bebas berkomentar, boleh bilang kita terlalu kecil untuk semesta yang memukau ini. Asalkan kita percaya bahwa kita jauh lebih besar dari perandai-andaian yang kita ciptakan.

‘’Diremehkan itu perkara biasa. Yang luar biasa itu ketika kamu mampu menjadi sesuatu yang dulu pernah orang-orang remehkan.”Lanjut Ayah sambil tertawa menatapku. Aku menatapnya lekat-lekat, begitu bersyukur memiliki sosok paling romantis yang disuguhkan secara ajaib ini.

*****

Hari ini tampaknya gurat awan sedang ikut melayu seiring dengan musim hujan yang sedang gemar mengguyur kota. Pukul tiga sore di taman kota, Petra mengajakku sedikit berbincang sambil memberikanku hadiah novel yang pernah ia janjikan tiga minggu yang lalu. Kami berada di satu kota yang sama, tetapi nyatanya untuk ketemu terasa begitu sulit. Mesti dijadwalkan dulu, tiap tiga minggu sekali.

“Kamu benar-benar ingin kuliah di luar kota?” Ia tidak banyak basa-basi. Menatapku dengan dingin, tak sehumoris biasanya.  “Kenapa tidak cari yang dekat dengan desa ini aja sih? Atau tidak usah kuliah. Perempuan kan kerjaannya mengurus rumah, tidak perlu lah jadi orang hebat yang mengagumkan.” Komentarnya tak berani menatapku. Sore ini, ia tega menghancurkan mood yang sudah kutata rapi.

“Saya tau kok bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang wanita. Wanita memang boleh pintar, bahkan wajib punya pengetahuan sebanyak-banyaknya. Asalkan ia tidak melupakan kodratnya. Begitukan sebaiknya?” Aku mencoba lebih sabar dari biasanya. Sekali lagi mencoba menata ulang pola fikirnya, barangkali masih ada sisa keegoisan yang belum sempat ditepisnya.

“Setelah ini kita akan terpisah ribuan kilometer jauhnya, akan lebih sulit ketemu dan ngobrolin ini itu. Mungkin satu tahun sekali. Mungkin setelah itu semuanya udah nggak sama lagi.” Katanya dengan tenang. Seakan tidak merasa terbebani karena kata-katanya barusan telah mengubahku untuk lebih baik diam saja. Ia kalah sebelum berperang, terlalu takut menerima tantangan, ah tidak maco.

Senja kali ini kami sibuk pada paper masing-masing. Petra tidak banyak melanjutkan topik mengenai kabar perkuliahanku. Ia hanya sekedar membetulkan letak kacamatanya kemudian sibuk meneliti kata demi kata buku di genggamannya. Dan aku sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Kurasa ini sore terburuk sepanjang sejarah.

*****

Setelah perang dingin satu minggu yang lalu, Petra tidak lagi mengirimkan kabar setiap paginya. Ia resmi mengatakan untuk mengakhiri kisah kami lewat tulisan baru di blog pribadinya. Ia sengaja mengemas tulisannya dalam bahasa seribet mungkin agar aku bersusah payah mengartikan makna tersiratnnya itu. Kutebak ia ingin bilang putus tapi khawatir dan tidak punya nyali. Dari dulu, sejak enam tahun aku mengenalinya tidak pernah rasanya berhasil meraup masuk dalam dunianya. Ia memang romantis, tetapi  lebih cocok dijuluki sosok misterius yang sulit ditebak, sulit buat dimengerti, sulit juga untuk orang lain memahami.

Sementara itu, Ayah masih setia menjadi motivator gratis dalam setiap keluh kesahku. Setiap paginya kudapati semangkuk sup hangat yang di sampingnya selalu tertera tulisan penyemangat dan tips-tips agar lebih gampang bahagia. Ia selalu menyambutku dengan senyuman tulus, menghentikan baca korannya demi menemaniku sarapan. Petra kalah romantis, Ayahku masih menduduki peringkat nomor satu yang begitu kukagumi.

“Kalau nanti aku kangen Ayah, apa perlu bilang kangen?” Tanyaku sambil memeluknya. Pelukan terakhir sebelum pesawat keberangkatanku siap terbang dan memisahkan kami berdua.

“Kalau kangen jangan bilang-bilang. Nanti Ayah yang repot.” Katanya sambil mengusap rambutku. “Repotnya kalau kamu bilang kangen, nanti Ayah juga jadi kangen. Dan buat membayar rasa kangen, harus ada tiket yang dibeli, surat izin tidak ke kantor, urusan ini itu yang perlu diskip, ah repotnya.” Lanjutnya membuatku tertawa .

“Nyatanya, tidak ada yang gratis di dunia ini ya.” Tawaku diikuti senyum simpul Ayah. Menyejukkan dan bikin rindu, serindu-rindunya.

*****

Tiga tahun sudah aku kehilangan kabar Petra. Rasanya begitu sakit kalau harus meraba kembali bagaimana indahnya kenangan saat dulu ia menjadi inspirasi dibalik semangatku untuk mencintai buku dan sastra. Petra yang lebih dulu mengenaliku pada dunia yang menarik ini. Sayangnya, ia tokoh yang tidak mendukung studiku, sebuah jalan yang akan menghantarkanku untuk memetik mimpi. Mimpi yang dulu selalu kuceritakan padanya setiap harinya.

Hari ini ia berulang tahun. Ingin sekali mengirimkannya doa-doa panjangku, tetapi rasa marahku belum kunjung reda.

“Ketika kamu marah cobalah untuk melarikan dirimu ke sebuah tempat dimana hanya ada kamu dan kesunyian di sana. Teriak sepuas-puasnya, menangis sebanyak-banyaknya, dan berhentilah kalau udah lega. Kurasa alam lebih mengerti bagaimana menenangkanmu dibandingkan orang lain. Alam menjadi pendengar terbaikmu, tidak

pernah menyudutkanmu kala kau salah.” Ia memberikanku secarik tisu sambil ikut nimbrung duduk di sebelahku. Seorang  pria berkacamata, wajahnya persis sama dengan Petra. Siapakah gerangan?

“Aku Pedro, mahasiswa  Harvard University Faculty of Arts and Sciences. Asal dari Indonesia, sama denganmu bahkan kita satu kota. Satu minggu yang lalu iseng cari tau tentang mahasiswa asal Indonesia, sepertinya seru punya teman seperantauan. Salam kenal ya, Karla.” Ia langsung to the point dengan bumbu basa-basi, tanpa keraguan dan rasa canggung berlebih. Ini kali pertamanya aku menemui sosok manusia dengan tingkat percaya diri, supel, dan semudah itu untuk gampang open minded dengan orang asing. Kusebut diriku orang asing karena nyatanya kami sama-sama tidak pernah saling bertemu dan kenal satu sama lain sebelumnya.

“Salam kenal juga Pedro. Di Indonesia apa punya kembaran atau hubungan kekerabatan dengan Petra?” Tanyaku keburu penasaran. Dilihat secara umum maupun spesifik, keduanya betul-betul mirip. Hanya saja, Pedro lebih banyak omong ditambah atribut kacamata tebal dan tahi lalat ukuran sedang di pipinya.

“Seumur hidup aku tidak pernah punya teman bernama Petra. Ayahku Syamsul, perpaduan keturunan Melayu dan Cina. Sementara Ibuku asli Jawa. Aku punya dua adik, namanya Berlin dan Rey, sedang belajar pendidikan formal di Indonesia.” Ia menjelaskan panjang lebar, membuatku nyaris tertawa. Kembali menyadari bahwa ia bukan Petra, dari cara berbicaranya barusan sama sekali tidak menggambarkan ia Petra.

“Maaf kukira kamu temanku yang hilang. Mungkin karena terlalu banyak memikirkannya, alhasil jadi begini.” Kataku diikuti tawa riuhnya. Kali ini, ia kembali bercerita tentang semua hal yang berkaitan dengan hidupnya. Sementara aku mendengarkan sambil sesekali tertawa karena rupanya ia lucu juga.

*****

Aku kembali ke Indonesia. Tentunya setelah menyelesaikan kuliah pada bidang teknik perencanaan wilayah kota di Harvard University. Ayah memelukku, segera mengabari bahwa ia akan mengadakan syukuran untuk merayakan kelulusanku.

“Ayah juga menyiapkan hadiah untukmu, Karla.” Katanya sambil mengajakku  memasuki ruang kamarku. Ada yang berubah. Kudapati karangan puisi ciptaan Ayah menjadi background dinding kamarku, rekaman foto tertata indah dengan nuansa klasik bak kamar-kamar tumblr yang jadi goals idaman banyak manusia. Sudah kubilang dari awal, Ayahku itu paling romantis.

“Tugasmu sekarang adalah mengabdi. Harus mengubah mindset bahwa kebahagiaan orang lain adalah kebahagianmu juga. Setelah mendapatkan dan memiliki apa yang kamu mau, sekarang giliran kamu memberikan dan membagikannya pada banyak orang. Kualitasmu mulai dinilai bagaimana mengolah emosi dan komunikasi ketika terjun di masyarakat. IPK dan nilai rapor selama sekolah dulu hanya jaminan dasar, selebihnya sikapmu yang menentukan bagaimana kamu dapat diterima di masyarakat.” Ayah memberikanku sebuah nasehat penting yang maknanya akan kupakai sepanjang perjalanan hidup esok dan seterusnya.

“Kecantikan kalau dilihat dari rupa itu gampang rapuhnya. Tetapi kepribadian, pola fikir, sikap, kebaikan hati, tutur kata, dan bagaimana seorang wanita memandang hidup itu jauh lebih menyejukkan. Jadilah seseorang yang punya integritas dan bisa diandalkan. Nanti yang datang padamu, juga sosok cerminanmu.” Lanjut Ayah, membuatku kembali mengingat Petra dan Pedro. Tentang Petra yang hilang dan  selalu kurindukan kedatangannya. Tentang Pedro yang setia menemaniku jalan-jalan, mengajakku untuk mengunjungi Harvard Art Museum yang terletak di Boston, menemaniku ke perpustakaan meskipun ia tidak suka baca buku, dan yang terpenting ia yang membuat Harvard terasa lebih manis untuk dikenang.

“Petra dan Pedro. Dua orang yang sering kuceritakan pada Ayah. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta dalam satu waktu yang sama untuk dua orang yang berbeda.” Tanyaku pada Ayah dan Ayah hanya menertawaiku seakan ini lucu buatnya.

“Jadi kamu lebih suka Petra yang misterius tapi romantis atau Pedro yang menyenangkan tapi bawel?” Seseorang tiba-tiba saja ikut nimbrung dan berdiri di hadapanku. Ia adalah salah satu dari nama yang kusebutkan barusan. Oh Tuhan!

“Petra?!” Aku takjub menatapnya. Tidak percaya akan bertemu setelah empat setengah tahun kehilangan kabar.

“Aku Petramu yang hilang. Juga Pedromu yang menemanimu di Harvard University.” Katanya membuatku kaku. Tidak mengerti maksud pernyataannya barusan.

Hari itu, Petra memberikan klarifikasi dari setiap kebingungan-kebingungan yang menimpaku.Selama ini ia menyamar jadi Pedro.

“Rupanya aku berhasil membuatmu tetap jatuh cinta, walaupun aku merubah karakter dan fashionku.” Ia menarik kesimpulan dan membongkar kemisterian dalam dirinya. Hipotesisku tentangnya perlu diperbaharui. Petra itu misterius, romantis, bawel, menyenangkan, dan aneh karena eksperimennya seringkali tidak masuk akal. Parahnya, aku gampang dibuatnya jatuh cinta.

“Aku juga heran.” Kataku masih tidak percaya.

 

-Selesai-

 Screenshot_2016-06-30-22-13-28-1.png

Tulisan ini didedikasikan untuk Ayah saya tercintanya. Sosok Ayah luar biasa, yang tidak pernah berhenti saya kagumi secara utuh. Yang selalu bikin rindu dan dicari keberadaanya kalau pulang ke rumah. Beliau yang paling sabar dan pengertian menyikapi anak perempuannya yang kadang-kadang nyebelin ini 😀

Jadi Lebih Baik

Hari ini, saya sedang ingin menulis apa yang saya rasakan. Tidak seperti biasanya, yang lebih banyak melibatkan ‘apa yang saya fikirkan’.Anggaplah tulisan ini sebagai motivation for myself yang barangkali juga bisa jadi inspirasi untuk orang lain.

 I want to inspire people. I want to someone look at me and say “Because of you, I didn’t give up.” Amin, semoga yaa.

  1. Be Smart.

Saya pernah mendengar kutipan dari seorang wanita yang berkata “Kepribadian seseorang itu tergantung kualitas bacaannya.”. Kalau buku bacaanmu novel cengeng, biasanya hidupmu ya mirip-mirip alur cerita di dalamnya. Drama, over baper, dengan bumbu galau ala anak remaja. Tidak masalah, asal diimbangi dengan bacaan ensiklopedia, atau bacaan lingkup apa saja. Setidaknya kalau balance, kisah cintamu akan realistis, logikamu juga jalan . Tidak melulu soal hal sensitif bernama perasaan. Perbanyak wawasan, perluas area pertemanan, dan cetak pengalaman sebanyak-banyaknya. Be smart not only be beauty.

Saya mungkin kategori manusia yang perlu belajar untuk gampang open minded dengan lingkungan baru, belajar untuk lebih percaya diri, dan menjadi seseorang yang lebih seru diajak ngobrol. Teorinya sudah dapat dari sumber wikipedia, blogspot, dan kutipan-kutipan para ahli di google. Sayangnya praktek tak sesederhana teori. Saya percaya there are many things that can’t be answered by google, salah satunya pengalaman. Cari pengalaman dari mana saja lewat praktek, petik pelajaran di baliknya. Di balik pengalaman, kita bisa kenalin karakter manusia yang beragam mulai dari yang mengagumkan hingga yang super menyebalkan. Kalau sudah bisa kenal karakternya, tugas kita adalah menerima dengan penerimaan yang baik. Kalau sudah bisa menerima, akan lebih mudah menghargai keberagaman. Alhasil orang-orang akan berubah menjadi menyenangkan dan toleran. Seru kan diskusi tukar pikiran kalau kita nyaman dan nyambung untuk diajak ngobrol?

Screenshot_2016-11-18-00-01-22-1_副本.png

2. Menghargai Pembicara

Akhir-akhir ini saya baru menyadari, satu hal penting yang sering saya abaikan dalam hidup. Perihal menghargai hal-hal kecil. Kadang kesal juga lihat mereka yang terlalu menyepelekan seorang pembicara yang sedang mengabdikan dirinya untuk membagikan ilmu-ilmu yang beliau miliki. Mereka bilang topik pembicaraannya membosankan, cara penyampaiannya bikin ngantuk, dan bikin mereka lebih asik dengan dunianya sendiri. Problemnya sebetulnya tidak dilimpahkan sepenuhnya pada pembicara melainkan audience. Nyatanya memang lebih banyak manusia yang hanya mau berbicara, sibuk berkomentar, tapi tidak bisa belajar menjadi pendengar yang baik.

Segaring apapun, sebikin ngantuk apapun, semembosankan apapun, bahkan senggak-penting apapun pematerimu itu, cobalah untuk tetap jadi pendengar yang baik.

Suatu hari nanti, kita akan ada di posisi mereka. Entah sebagai guru yang menerangkan pelajaran kepada muridnya, entah sebagai seorang planner yang mempresentasikan idenya, atau sebagai pengusaha yang mengayomi para karyawannya. Intinya, kita tetap akan jadi seseorang yang berbicara di depan publik. Jika suatu hari nanti audience-mu lebih memilih memainkan gadgetnya, ngobrol bersama rekan kanan-kirinya, atau bahkan tidak selera mendengarkan pembicaraanmu jangan hakimi mereka dan hakimi topik presentasimu. Intropeksi tidak hanya berdasarkan koreksi mengenai unsur persiapan dan teknis semata  melainkan ada hal konkret yang perlu kamu pertanyakan baik-baik.

Tanyakan sejenak pada nuranimu, selama ini sudah baikkah kamu ketika menjadi audience?

Hargailah gurumu, dosenmu, atau siapapun yang berbicara padamu. Bukan perihal tentang ‘siapa ia’ tetapi lebih kepada ‘apa yang ia sampaikan’. Hargai usaha mereka mempersiapkan segalanya dengan matang. Siapa tau di balik hari itu, mereka tengah berjuang mengumpulkan materi-melawan kantuk, latihan di depan kaca-menumbuhkan kepercayaandiri, atau bahkan ada yang rela mempersiapkan perlengkapan ini itu hanya untuk mempersembahkan yang terbaik buatmu. Kamu akan dihargai sebagaimana kamu menghargai orang lain. So, mulailah untuk belajar menyikapi orang lain sebagaimana kita ingin disikapi.

3. Bermanfaat.

Jadilah seseorang yang punya integritas. Minimal kalaupun belum bisa mengubah orang lain, setidaknya sudah mau usaha mengubah diri sendiri untuk jadi lebih baik. Tidak perlu dinilai hebat, dijuluki sang pendobrak perubahan, apalagi hanya karena gila pujian. Bukan perihal bagaimana kita di mata orang lain.Seperti kata Tere Liye “Kita tidak perlu jadi tongsis atau kamera yang saat diangkat orang-orang jadi  tersenyum melihatnya. Pun tidak perlu jadi lagu kenangan, yang saat diputar orang-orang jadi mengingat kita. Tidak. Kita cukup jadi diri sendiri. Bahagia. Bermanfaat.”

Selalu lakukan hal baik, tidak peduli orang lain bilang action kita hanyalah pencitraan, ada maunya, or blablabla. Yang penting kita tidak membebani orang lain dan tidak bikin repot diri sendiri. Masalah mereka bilang kita ini itu skip sajalah. Belajarlah untuk mempositifkan sesuatu yang menurut kita negative. Kelak yang akan dikenang bukan tentang gelar apalagi goals takhta kekayaan favoritmu itu. Tapi nyatanya tentang bagaimana dalam hidup kamu dapat bermanfaat dan jadi agen kebaikan buat orang lain.

Hidup ini bukan lomba lari. Melainkan lomba berbagi. Yang paling berharga bukan seberapa cepat kamu dapat mewujudkan mimpi tetapi seberapa banyak manfaat yang sudah kamu berikan buat orang lain.

4. Ganjaranmu tergantung kadar lelahmu.

Saya percaya bahwa usaha akan berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Tuhan itu Maha  adil, seadil-adilnya.

“Saya percaya saat kamu kerja mati-matian dan kamu layak dibayar 10juta tapi pada akhirnya kamu malah hanya dibayar 1 juta, saya yakin 9jutanya adalah kesehatan, kebahagiaan, dan link yang kamu dan Tuhan aja yang tau.”-Chrissuprapto.

SO, I’M TRYING TO BE A BETTER PERSON HERE.